Pagi ini, sembari meneguk kopi Kotamobagu, Sulawesi Utara, saya membaca ulasan Coen Pontoh di situs indoprogress.com. Ada usaha untuk mencekal pikiran lagi di Indonesia. Kali ini menimpa Ulil Abshar Abdala, pentolan Jaringan Islam Liberal, di sebuah kampus.
Ini zaman serba terbuka. Zaman digital. Zaman di mana kehidupan terkomputerisasi. Asal rezim politik tak berlaku tertutup, banya hal bisa di-download- dari jejaring dunia maya. Asal rezim politik tidak paranoid, apa saja bisa disebar-bagikan di ruang dunia maya. Informasi apa saja berputar disini, entah dari yang serius atau sekedar iseng.
Singkat kata, ini zaman dimana informasi menyebar dari segala rupa penjuru, bertemu, menyebar, dan berganti. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai zaman dimana informasi bergelombang seperti tsunami. Oleh karena itu, ada potensi terjadi obesitas informasi pada kesadaran. Makanya masyarakat abad digital perlu belajar melakukan ‘diet informasi’: memilah, memilih, mengkonsumsi informasi yang menyehatkan kesadaran. Dalam urusan diet informasi ini, kesadaran individual jadi harus lebih dilatih untuk mandiri dan kritis. Sebaliknya, kesadaran massa yang cenderung tunggal/seragam akan jadi bulan-bulanan.
Lalu, beredar kabar di satu belahan bumi bernama Indonesia, negeri postkolonial yang sedang terseok-seok dengan pembusukan sistem politik (karena diisi oleh korupsi,dkk-nya), diskriminasi atas minoritas, ketimpangan pembangunan, mengentalnya sektarianisme, dll, ada lembaga pendidikan yang ‘mencekal pikiran’.
Masih ada ketakutan bahwa pikiran atau gagasan tertentu harus dilarang-larang. Masih ada mekanisme sensorik terhadap pikiran dari ranah masyarakat, bukan lagi negara seperti zaman Orde Baru. Celakanya, ini terjadi di lembaga pendidikan tinggi tempat dimana gagasan diuji terus menerus dengan gagasan yang lain, bukan dengan tekanan massa dan pentungan.
Hingga hari ini, zaman boleh digital hingga ke kamar mandi, tapi masih ada ketakutan akan gagasan (tertentu) yang terus bertahan dalam ‘bawah sadar’ kita. Ketakutan jikalau gagasan akan bekerja diam-diam secara misterius mempengaruhi kesadaran tanpa si pemilik kesadaran, jangankan memeriksanya, menyadarinya saja tidak. Ketakutan yang tak lagi dipompa dari aras negara. Ia telah menjalar ke masyarakat. Negara tak perlu lagi aktif. Ketakutan sudah menjadi sosial dan politis : ia melarang dan menghukum yang dianggap menyimpang. Bahkan ketakutan yang sudah berani masuk ke kampus. Masuk dan memaksa lembaga yang justru hanya berfungsi dan berdaulat jika gagasan-gagasan diperdebatkan agar tak memberi ruang ia bicara disana.
Saya lalu membayangkan, andai di zaman generasi bung Karno-bung Hatta yang serba terbatas dalam akses informasi itu, dkk itu, mereka mendidik diri dengan ‘ketakutan akan ide/gagasan dari Barat misalnya’, apa iya yang namanya Nasionalisme Indonesia itu bakal lahir dan menjadi ‘api perlawanan’ nasional ? apa yang namanya pikiran-pikiran ekonomi kerakyatan itu akan lahir kalau bung Hatta ketakutan berhadapan dengan gagasan-gagasan Karl Marx? atau diskursus tentang Sosialisme Islam Tjokroaminoto itu akan tersusun tapi dialektika gagasan dengan Marxisme ?. Tegasnya, apakah Indonesia Merdeka akan lahir jika dinamika gagasan generasi 1945 ini terkurung dalam ketakutan dan ketertutupan ?.
Lalu darimana ketakutan itu disusun secara sistematik dalam ruang batin masyarakat Indonesia ?.
Coen Pontoh dalam ulasan di indoprogress.com meletakkan dasar dari semua ketakutan atas pikiran ini, secara politik, diletakkan negara orde baru itu. negara yang ketakutan dengan Marxisme namun berlaku masokis dengan Kapitalisme berwujud Pembangunanisme. Disini, laku sensorik ala rezim kolonial terus hadir hingga ke zaman pembangunan.
Saya ingat, dulu, zaman masih mahasiswa, sesudah Soeharto jatuh, kami pernah mengundang George Aditjondro mengisi diskusi kecil di Manado. Manado, yang kata orang ‘masyarakatnya serba membolehkan (permisif)’ itu, ternyata tidak bagi aparatur intelijen militer. Sekretariat kami ditunggui. Diskusi tetap terjadi, bahkan pakai foto-foto bersama. Saya sadar, Soeharto sudah jatuh, tapi tidak demikian rezim sensor gagasan.
Barangkali ketakutan yang berbuah laku sensorik atas gagasan inilah yang sejak lama disinyalir Erich Fromm sebagai tindakan lari dari kebebasan (escape from freedom). Karena dalam zaman digital, kita tahu, yang tersedia selain kecepatan, peniruan, perayaan hasrat, dan pendangkalan makna, adalah ketidakpastian terus menerus. Makanya manusia berusaha untuk kembali pada sistem makna yang dinilai telah baku dan menyediakan solusi yang final atas perjalanan sejarah. Satu tindakan kembali pada sistem makna yang final yang dalam sejarah masyarakat manusia, bukan cuma di Indonesia, acap kali berkawan represifitas dan kematian.
Saya kira ketakutan akan gagasan ini harus didewasakan dengan keterbukaan, perjumpaan, dan dialog. Sistem makna yang final justru sedang digugat habis kini, sebagaimana laku yang ditunjukan kaum Posmodernis dalam judul besar ‘Kritik Atas Narasi Besar’. Bukan dengan menawarkan ‘rezim sensor’ yang baru dan bermuka angker menyikapi pluralitas gagasan. Dalam rute ‘terbuka, jumpa, dan dialog’ inilah demoratisasi gagasan itu tumbuh subur dan saling menyehatkan.
Selamat beraktifitas kawan Kompasianer. Salam
Tautan
Ulasan Coen Pontoh .
Berita Pencekalan Ulil .

0 komentar:
Posting Komentar