Walaupun hanya memiliki sebidang tanah namun perjuangan hidup harus tetap diteruskan karena bukan hanya kita yang akan terus hidup di dunia ini namun demi kelangsungan generasi mendatang. Rumah yang reok dan pakaian yang lusuh ini tetap harus dirawat demi mempertahankan harkat hidup keluarga.
Siapa yang tidak menyangka kalau nasi yang kita makan sehari-hari adalah jerih payah perjuangan sang petani. Mereka yang setiap harinya pergi pagi pulang sore ke sawah untuk menghasilkan beras yang menjadi panganan andalan hampir semua masyarakat bangsa ini menjadi begitu prihatin kehidupannya. Apapun pekerjaan anda di Negara ini, tapi yang namanya petani adalah pekerjaan tidak mudah, makanya tidak heran apabila semua petani disetiap sudut negeri ini pasti menginginkan anak dan cucunya jangan sampai menjadi petani seperti mereka, cukuplah mereka yang berjuang dengan penuh peluh menjadi petani yang makan dan minum serta berpakaian apa adanya. Hasil sawah-ladang belum bisa mensejahterakan mereka sesuai ukuran dan standar kesejahteraan.
Berbicara tentang kesejahteraan petani dengan berbagai macam teori dan alasannya kadang membuat akar masalah yang akan dipecahkan yaitu kesejahteraan petani itu sendiri tidak terpecahkan bagai mengurai benang kusut. Dari masa pergolakan, orde lama, orde baru sampai orde reformasi tetap begini-begini saja masalah petani. Para insinyur, sarjana bahkan professor pertanian pun susah mengurai benang kusut ini, banyak buku, tesis, disertasi, artikel dan lainnya telah dipublikasikan namun belum juga menjawab akan kondisi yang nyelimet ini. Saking terlalu banyak di bicarakan diberbagai forum intelektual dan akademisi dan telah ditulis diberbagai literature dan belum kunjung berdampak signifikan terhadap perubahan petani, oleh seorang teman menjuluki para sarjana dan professor yang sering menulis terkait petani dan berbagai problematikannya tersebut sebagai orang yang bertani diatas kertas.
Membayangkan seperti apa seharusnya petani terkategori sejahtera dan kaya, saya sendiri tidak memiliki kriteria akan parameter tersebut, namun di karenakan sedikit mengandrungi lagu-lagu grup band “slank” saya jadi ikut mempunyai parameter untuk kesejahteraan petani. Seperti yang di tulis dalam syair lagunya yang berjudul pak tani grup band “slank” tidak sengaja telah membuat parameter kesejahteraan untuk petani dimana ukuran kesejahteraan seorang petani itu; apabila petani sudah bisa membajak sawah pakai traktor, hitung laba panen pakai computer, mengirim beras pake helicopter. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa hanya dalam mimpi kondisi ini bisa terjadi pada petani Indonesia dikarenakan mustahil wong kerja sebagai petani kok bisa sampai beli helicopter. Tapi itulah rakyat kita tidak pernah bermimpi yang lebih tinggi, kita hanya bisa bermimpi akan hal-hal yang sedikit lebih rasional ukuran daya kerja kita. Padahal di Negara lain dengan kondisi sumberdaya alam yang terbatas namun bisa bermimpi yang tinggi walaupun dia seorang petani. Contoh sederhana para petani di New Seland, Brasil, mereka bisa menggarap sawah pake traktor bahkan mendistribusikan hasil panen dengan helicopter dan pesawat mini. Ini menandakan bahwa sebenarnya petani itu bisa melakukan dan menggapai mimpi-mimpin seperti itu dan bukan sebuah hal yang mustahil tercapai.
Pola pikir bangsa kita yang cenderung apatis akan mimpi-mimpi besar inilah yang mematikan semangat juang petani kita sehingga apa yang saya singgung di atas menjadi domain bahkan kutukan yang perlu dihindari oleh para petani yaitu mereka berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadikan anaknya petani lagi karena dikhawatirkan akan bernasib sama dengan mereka. Sehingga muncul paradigm me-manusia-kan manusia itu adalah menyekolahkan anak setinggi mungkin yang ujungnya akan bekerja sebagai pegawai negeri atau minimal pengawai kantoran, tentara, polisi yang selalu menerima gaji bulanan sebagai jaminan hidup dibandingkan jadi petani yang tidak jelas penghasilannya dikarenakan masih bergantung pada hasil panen yang menunggu beberapa bulan dan kadang mengalami ketergantungan cuaca karna bisa mengakibatkan gagal panen. Ditambah lagi kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap kebijakan pertanian yang cenderung berpihak pada impor produk pertanian. Coba saja anda bertanya pada setiap petani yang bisa anda temui, apakah hal terbaik yang ingin ia lakukan terhadap putra-putrinya. Mayoritas bahkan semua petani tersebut mengatakan berusaha agar putra-putrinya tidak menjadi petani seperti dia lagi. Ironis memang dimana sebagian orang di negara lain bersusah payah memanfaatkan SDA nya yang terbatas, di negeri ini petani malah mendoakan anak nya untuk tidak lagi bersentuhan dengan kerja-kerja pengelolaan SDA.
Kita sebagai bangsa yang kaya akan SDA malah semakin menghindari kerja-kerja pengelolaan sumberdaya alam. Budaya bertani dan berladang dengan budaya kerja yang tinggi berganti menjadi budaya konsumtif dan hedonis. Mungkin akibat dari budaya kolonialisme yang telah mengakar dan menggusur budaya ke-Indonesia-an yang penuh rukun, damai dan gotong-royong itu. Karena di zaman kolonialismelah petani itu dianggap sebagai orang yang terbelakang bahkan budak karena bisa dipekerjaan semaunya. Di zaman kolonialisme para petani dipaksa untuk memberikan sebagian lahannya untuk pemerintah colonial dan yang tidak memiliki lahan diwajibkan bekerja sebagai buruh tani pada perkebunan colonial sebagai gantinya. Hal inilah yang mungkin mengakibatkan munculnya image petani sebegai orang terbelakang dan budak seperti yang terjadi pada massa kerja rodi/tanam paksa (culturestelsel) yang telah mengorbankan banyak nyawa.
Culturestelsel merupakan peristiwa masa lalu yang harus dikubur sehingga tidak terulang kembali, namun realitasnya secara rezim culturestelsel telah tiada namun secara praktek bangsa ini masih merawat budaya tersebut. Pekerja perkebunan masih bisa kita temukan dimana-mana dan pemiliknya konglomerat. Apa bedanya konglomerat tersebut dengan kaum colonial yang merampas tanah petani dan mempekerjakan petani tersebut sebagai buruh tani di perkebunannya. Lahan pertanian di kuasai Negara dan dimanfaatkan Negara untuk para konglomerat dengan alasan investasi. Perkebunan-perkebunan yang dimiliki BUMN dan perusahaan-perusahaan asing mempekerjakan petani pada tanah-tanah tersebut, apa bedanya dengan perusahaan colonial yang mempekerjakan petani pada perkebunan-perkebunan mereka. Inilah realita kehidupan petani kita, lantas pertanyaan yang muncul kemudian kapan petani itu bisa sejahtera sesuai ukuran kesejahteraan yang sebenarnya.[]

0 komentar:
Posting Komentar