Siapa bilang mobil murah itu murah? Ya, orang-orang kaya yang bilang mobil murah itu murah, bagi orang miskin mobil murah itu mahal, namanya bukan mobil murah tapi mobil mahal. Mobil bagi orang miskin tetap tergolong barang mewah. Namun pemerintah menjebak masyarakat Indonesia dengan memfasilitasi berbagai kemudahan dalam kepemilikan barang mewah tersebut, dibuatlah propaganda: di Indonesia ada mobil murah! Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan?
Siapa lagi yang bakalan diuntungkan, kalau bukan negara pembuat mobil murah itu. Selain itu yang diuntungkan, ya siapa lagi kalau bukan pejabat negara yang menggolkan kebijakan mobil murah, termasuk presidennya, wakil presidennya, para calo yang berpakaian pejabat, dan kroni-kroninya yang lain. Ujung-ujungnya, biasanya partai yang berkuasa pasti bakalan kecipratan juga, karena sangat membutuhkan dana segar untuk pemilu tahun depan.
Sementara yang dirugikan, ya negara dan bangsa Indonesia. Secara normal, pemerintah apabila masih punya empati terhadap bangsanya, akan merasa rugi dengan adanya kebijakan mobil murah ini. Coba kita lihat pemberitaan di salah satu media elektronik detik.com : “mobil murah bidik 48 juta penduduk Indonesia”. Jika kita asumsikan berita ini benar, maka hitung-hitungan ekonomisnya secara kasar adalah:
- Jika harga mobil murah: 70 juta rupiah
- Target penjualan mobil murah: 70 jt x 48 jt = 3360 triliun rupiah!!
- Jika keuntungan produsen 50%, maka uang devisa negara akan mengalir keluar sebanyak 1680 triliun rupiah!!
- Jika target waktu penjualan 5 tahun, maka setiap tahunnya negara RI akan mengeluarkan uang devisa sebanyak 336 triliun rupiah!!
Menurut versi Rudi Rubiandini (tahanan KPK), industri migas Indonesia menyumbangkan sebanyak 35 triliun rupiah setiap tahunnya kepada negara melalui APBN (Tempo). Artinya pendapatan negara dari sumber andalan migas tidak akan sanggup untuk membiayai mobil murah di Indonesia. Sungguh malapetaka besar buat bangsa Indonesia.
Dampak psikologis terhadap masyarakat Indonesia adalah stres! Antara lain:
- Jalanan tambah macet terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, karena sistem transportasi umumnya tidak dapat mengimbangi pertambahan jumlah mobil
- Jalanan kampung jadi macet, karena rumah-rumah yang di gang punya mobil
- Iri sama tetangga rumah, karena mereka punya mobil padahal mereka bukan orang kaya
- Cicilan bulanan yang mencekik, karena ikut mencoba untuk kredit mobil murah untuk gengsi
Demikian sekilas dampak mengerikan dari politik bisnis mobil murah yang murahan. Salah SBY kah?

0 komentar:
Posting Komentar