BEDA era, beda tujuan. Dulu, untuk buka mulut orang perlu ke luar negeri, satu di antaranya ke Singapura. Istilahnya: untuk “operasi gigi” jangan berani di dalam negeri. Bisa langsung terdengar dan boleh jadi ditangkap. Itulah era Orde Baru, di mana intelejen disebut-sebut kuat.
Sekarang, orang-orang ke negeri tetangga nan menggiurkan itu, karena banyak sebab. Jalan-jalan sore, belanja atau bahkan cumalah untuk ngopi, nonton konser musik dan nonton balapan mobil, F1. Atau untuk berobat medik sambil jalan-jalan dan keluarga besar mendampingi tidur di apartemen mewah yang disewa. Sudah begitu, dari Bandara Soekarno-Hatta ke Negeri Singa lebih cepat daripada ke Surabaya. Tinggal clingkrek, nyeplak, sampai dengan numpak motor mabur, naik pesawat.
Baik. Tapi ini kisah Kepala Daerah bernama Ratu Atut Chosiyah bertemu dengan Ketua Mahkamah Konstitusi, beberapa hari menjelang Akil Mochtar Ketua MK tertangkap KPK. Yang mendampingi, Wawan (TB Chaery Wardana), adik Sang Ratu. Untuk apa pertemuan di Singapura? “Tidak ada pembicaraan tentang hal-hal spesifik. Pak Wawan hanya menemani Bu Atut ketemu di situ,” jelas Pia Nasution, pengacara Wawan, tersangka KPK itu.
Bisa dipercaya? Entahlah. Yang jelas kok seperti skenario hebat, setidaknya, niatan tersangka Wawan maupun Akil menjadi klop. Karena ada kasus sengketa Pilkada di Lebak (wilayah provinsi yang dikepalai Ratut Atut) yang ditengarai berkait dengan Akil sebagai ketua MK. Yakni dengan Wawan disebut-sebut menyiapkan uang semilyar untuk Ketua MK.
Wawanlah yang hebat. Sebagai adik Gubernur Banten, ia disebut-sebut menguasai proyek-proyek besar di wilayah kekuasaan Ratu Atut. Tak pelak, kekayaannya meluap. Selain mobil-mobilnya mewah di atas satu milyar – berlipat-lipat daripada hanya untuk menyuap Ketua MK – ia waktu ke Singapura untuk acara nonton F1 alias balapan mobil. Klop. Bukan spesifik menemani sang kakak ketemuan dengan Ketua MK saat itu.
Kisah selanjutnya, mana yang benar? Cumalah perbicangan tak sengaja di Singapura di antara mereka: Atut-Wawan-Akil ? Perlu menunggu kisah Dinasti Banten. Ini mengingatkan opera sabun Dynasti pada era delapan puluhan, ada tokoh ya antagonis yang diperankan Joan Collins, wanita cantik dan sexy. Entah dalam kasus yang menyangkut keluarga yang disamakan dinasti Banten. Yang jelas, ada Ketua MK yang sudah profesor pula menjadi salah satu pemerannya sebagai “antagonis”.
Maka dengan setting di Singapura, itu menjadi kebutuhan biasa-biasa saja dari sebuah soap opera Dinasti yang dianggap Presiden kurang elok. Eh, yang omong ini pun bisa disebut pemeran utama Dinasti Cikeas. Di mana tak kurang 15 keluarganya ramai-ramai mencalonkan diri dalam Pemilu 2014 lewat pintu Partai Demokrat yang diketuai SBY.
Ketemuan di Singapura yang menyeret Akil Mochtar dan Wawan, menjadi niscaya, bukan sebuah sempalan skenario awal. Memang plotnya begitu. Sebuah opera sabun, mestilah dengan setting mewah dan bukan tempat kumuh semisal di Sukabumi selatan yang berbatasan dengan wilayah Banten selatan seperti Malingping, Lebak yang menjadi soal Wawan untuk mengalunir kemenangan anak Bupati Jayabaya – bukan klan Ratut Atut dalam Pilkada 2013 ini.
Setting, ketemuan di Singapura, masih panjang. Semakin menarik sebuah tontonan hiburan sejenis opera sabun, semakin dibuat-buat alur cerita atau plotnya. Itu sudah paten sejak dulu sebagai sebuah tontonan yang sesungguhnya bisa menyakitkan mata rakyat jelata. ***

0 komentar:
Posting Komentar