blazer korea

Jualan Nasi, Meski Jadi Istri Wakil Walikota Malang



Hampir semua istri pejabat, mulai bupati, wali kota, gubernur, anggota DPR, juga presiden akan otomatis mengikuti gaya protokoler suaminya. Ngintilnya para istri terhadap suaminya dalam hal ini biasanya dari segi gaya pakaian, kegiatan maupun segala macam aktivitas yang bersangkutpinangkut dengan tugas sang suami. Hal ini seakan menunjukkan ‘kenaikan’ pangkat dan derajat kehidupan mereka baik dari segi harta maupun jabatan yang disandang.


Namun, ternyata tidak semua gambaran di atas tepat. Istri Wakil Walikota Malang, Endang Taqiyyah (49) adalah contoh nyata. Meski suaminya, sutiadji, telah resmi menjadi Wakil Walikota Malang mendampingi Abah Anton, tapiEndang tetap ‘setia’ pada aktivitas kesehariannya seperti pada saat belum menjadi istri Wawali, yakni jualan nasi.


Istri Wawali Malang tersebut berjualan nasi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang tepatnya di dalam lingkungan mahad putri UIN Maliki. Kantin yang ia kelola selama ini bernama Kantin ‘El-Salwa’. Profesi jual nasi ini sudah ia geluti sejak tahun 2007, jauh sebelum suaminya menjabat Wakil Walikota Malang yang baru dilantik beberapa bulan belakangan.


Menurut Bu Endang, jabatan yang diemban suaminya tidak akan mengubah profesinya jualan nasi di kantin, apalagi sampai menghentikannya. Sebab suaminya juga tidak mengharuskannya tampil necis dan perlente.


“Saya dan suami menganggap jabatan dan harta hanya amanah dan sementara, tidak dibawa mati. Bapak juga tidak menuntut saya harus begini atau begitu. Saya apa adanya saja,” ujarnya. (Surya.co.id, Jum’at, 18/10/2013).


Sebagai bukti keseriusannya dengan profesinya tersebut, Bu endang tiap subuh pergi ke pasar tradisional Dinoyo untuk belanja keperluan kantinnya. Menurutnya, kalau tidak ada kegiatan protokoler Pemkot Malang, ia pasti ada di kantinnya.


Ada satu hal yang menjadi alasan kenapa Bu Endang tidak menutup kantinnya, selain karena suaminya juga tidak melarangnya, dengan tetap berjualan nasi, ia ingin menjadikannya sebagai ‘cermin’ untuk tetap merendah. Bahkan ia sama sekali tidak malu melakukannya.


“Selama yang saya lakukan halal tidak masalah, bapak pun tidak masalah. Mengenai posisi bapak, Insya Allah saya bisa menyesuaikan diri,” ucapnya. (Surya, Ibid)


Pribadi Bu Endang, yang apa adanya dan tidak memandang hal duniawi ini karena ia tergugah dengan Sy’ir Tanpo Wathon milik Gus Dur. Bu Endang menerangkan, hidup manusia itu harus ikhlas, dan jangan memandang rendah orang lain, apalagi membanggakan jabatan dan harta.


“Hidup ini ujungnya kematian, jabatan dan harta tidak ikut dibawa. Jadi saya mencoba memandang jabatan suami saya ini sebagai cara mencari ridho Allah SWT,” ujar Endang. (Ibid)


Kita bisa belajar banyak dari prinsip dan filosofi hidup yang dipegang oleh istri Wakil walikota Malang tersebut, bahwa harta dan tahta jangan dijadikan alat atau sarana untuk merendahkan orang lain, karena pada dasarnya keberadaan kita di dunia ini sifatnya hanya sementara.


Jabatan tidak harus membuat kita jumawa dan selalu tampil perlente, sebab jabatan adalah amanah. Kita jangan terjebak dan apalagi sampai didekte jabatan dan kepentingan duniawi, tapi kita yang berpredikat sebagai khalifah inilah yang seharusnya mendekte kepentingan duniawi.


Selasa, 22 Oktober 2013



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/22/tetap-jualan-nasi-meski-jadi-istri-wakil-walikota-malang-601191.html

Jualan Nasi, Meski Jadi Istri Wakil Walikota Malang | Unknown | 5

0 komentar:

Posting Komentar