Dalam sebulan terakhir, warta bencana alam berupa gunung meletus dan gempa terus berulang. Dari Gunung Sinabung, Gunung Tangkuban Perahu, dan Gempa Gorontalo. Teranyar, gempa besar di Filipina. Pun, ditambah dengan angin topan dan badai di beberapa daerah. Perubahan iklim juga turut serta menjadi biang keladi bencana yang sebenarnya bermuara pada laku manusia dengan penetrasi masif berupa polusi dari kehidupan industri.
Bencana alam memang tak terperi namun masih bisa dideteksi. Alhasil, eksistensi teknologi dan ilmu pengetahuan modern dielu-elukan. Sayangnya, kemajuan teknologi tidak bebarengan dengan penggalian nilai-nilai kultural- kearifan lokal. Padahal bencana alam sudah terjadi sedari dulu kala. Dan, sudah barang tentu pula masyarakat terdahulu telah mempunyai seperangkat langkah antisipasi dan penanganan kebencanaan. Maka, kita kemudian seharusnya memang wajib melongok bagaimana kiat-kiat nenek moyang guna mencari landasan kearifan dan perimbangan.
Serasa ada kesenjangan (gap) bila atribut tradisi lokal beridentik mistik, tak logis, dan tahayul. Sedangkan di sisi lain, teknologi senantiasa memperbaharui kecanggihan yang lebih akurat yang teranggap logis. Gap tersebut kerap berakibat resistensi masyarakat lokal. Tradisi dan pelabelan kemodernan pada kenyataannya memang saling bernegasi. Namun, tetap berujung dengan terkaparnya kearifan lokal. Tapi, ada yang menjadi “kesepakatan” asalkan upaya preventif tanggap bencana selaras dengan nalar. Dan hal itu rupanya kini terus disebarluaskan; seakan mencoba membuktikan identitas (sebagian) kearifan lokal mampu bersanding dengan seperangkat peralatan sistem peringatan dini (early warning system) yang canggih.
Kearifan lokal itu semisal berwujud pada lagu berjudul “Tetue Amusiat Loga”, khas Mentawai. Lagu tersebut telah memberi isyarat alam bila gempa hendak menggunjang, serta merta ayam berkotek tanpa sebab. Pun, nenek moyang Mentawai mengarahkan anak-cucunya untuk tidak bertempat tinggal di tepi laut, melainkan di perbukitan. Lagu tersebut adalah tak ubahnya sebagai ikhtisar hasil permenungan dari tsunami yang pernah menerjang Mentawai tiga abad lalu. Filosofi rumah adat Gadang yang menjulang tinggi dan tidak bertembok bata pun juga berpetuah di samping menghindari ancaman hewan buas juga termaklum supaya terhindar banjir (tsunami) dan bertahan gempa.
Kearifan lokal juga mewujud pada hewan-hewan yang turun gunung secara mendadak dan masif. Fenomena alam ini sebagai pertanda gunung berapi segera memuntahkan larva dan abu vulkanik. Sehingga penduduk setempat sesegera mungkin untuk mengungsi.
Bukan Tahayul
Sementara di sisi lain, kearifan lokal dalam ragam mistik kerap menelikung ceruk kemodernan tanggap bencana. Kita tidak menutup mata dengan hadirnya sebutan pawang, penjaga, atau juru kunci sebuah laut atau gunung sebagai personifikasi penghubung antara “penguasa gaib” dan masyarakat setempat. Terkadang, sulit mendialogkan nilai kepercayaan dengan kelogisan. Sebagian (besar) masyarakat di daerah tersebut lebih memercayai sabda si juru kunci sebagai hasil bisikan gaib.
Keriuhan kearifan lokal terus berulang menjadi tradisi yang akan menjadi malapetaka bila tak dijalankan. Maka, tradisi melarung kepala kerbau (sesaji) ke laut atau setidak-tidaknya menggelar “sedekah bumi” terus dilangsungkan di beberapa daerah.
Sayangnya, tamsil-tamsil bernuansa mistik kerap dianggap skeptis dan bukan terkategori efektif sebagai bagian tanggap bencana secara holistik. Inilah yang penulis maksud sebagai gap. Dan, itu pun menjadi celah menganga bahwa ada kesan kuat pemaknaan dan term kearifan lokal harus dipilah-pilah terlebih dulu sebelum menjadi pedoman baku tanggap bencana: mana yang logis, mana yang tahayul.
Padahal, sebuah kajian wajib berlandas keberimbangan. Itu pula yang mesti ditinjau lebih mendalam sikap kita atas tradisi larung sesaji dan kehadiran si juru kunci. Sehingga, celah menganga itu sebisa mungkin dapat dimampatkan untuk kemudian menjadi bahan kajian pembelajaran laku manusia terhadap kosmos alam sebagai landasan filosofi.
Tradisi larung, sedekah bumi atau sabda juru kunci, tentu menyiratkan pesan bahwa nenek moyang kita telah mengajarkan bahwa alam mempunyai dimensi abstrak berupa dengan ketundukan manusia pada Tuhan. Maka, tradisi tersebut tak lebih sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Dan, kehadiran juru kunci mestinya lebih dilihat dari kacamata sosiologis. Dengan artian ia sebenarnya dapat membaca tanda-tanda alam dengan menggunakan rasa dan batin. Itulah dimensi spiritual kearifan lokal dalam relasi manusia dengan alam. Spiritualitas semacam itu akan termanifestasi mewujud pada ketidakserakahan manusia dan laku mencintai alam. Dengan begitu tercipta keseimbangan kosmos. Alhasil, nuansa yang tadinya dimaknai serba tahayul, kini tampak menjadi masuk akal.
Meski demikian, kedua “kubu” tersebut idealnya senantiasa berupaya untuk saling melengkapi. Edukasi terhadap masyarakat lokal yang bermukim di tepi laut atau lereng gunung tetap diprioritaskan dengan pemberian wawasan kebencanaan beraspek ilmu modern. Kearifan lokal yang telah mereka lakukan perlu sebuah perimbangan dengan keterpautan pada dimensi ilmu pengetahuan modern. Hal ini dilakukan lantaran kita tidak memungkiri peran penting alat dan ilmu modern dalam upaya pengurangan risiko kebencanaan. Tamsil masyarakat Jepang yang langsung memantau siaran televisi setelah terjadi bencana; apakah akan ada terjangan tsunami atau tidak, perlu ditiru.
Begitupun sebaliknya, ketika sekarang kebencanaan telah dikurikulumkan menjadi pelajaran yang terintegratif di sekolah sejak 2011. Dan, menjadi kurikulum tersendiri pada tingkatan sarjana –yang hanya terdapat di beberapa perguruan tinggi. Sayangnya, kurikulum kebencaaan masih berupa wawasan dan implikasi teknis-pragmatis. Penggalian pada kearifan lokal sebagai gagasan dan alternatif kajian kebencanaan belum maksimal. Meskipun kini terlihat mulai digencarkan pelibatan unsur kearifan lokal, namun tetap disayangkan, realita manajemen tanggap bencana hanya mengangkut tradisi yang dianggap “masuk akal” semata.
Bisa dibayangkan betapa banyak unsur-unsur kearifan lokal tanggap bencana yang bisa digali dan dijumput tatkala Indonesia kaya budaya dan tradisi. Tugas para pemangku kepentingan (pemerintah) ialah menggabungkan dan mencari format baku agar kearifan lokal mampu bersanding dengan ilmu dan alat modern untuk kemudian menjadi pedoman efektif manajemen kebencanaan yang berciri khas Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar