blazer korea

Jokowi Juragan Ajino Moto, ‘Manusia Tanpa Jarak’



MANTAN walikota Solo itu hijrah ke Jakarta setahun lalu. Tak ada niatan untuk jadi artis ndangdut laiknya orang daerah. Pasalnya? Suara Jokowi cempreng aja pake banget. Jokowi ke Betavia bertekad jualan bumbu masak- ajino moto. Pria kelahiran 1961 ini tergiur logo bumbu masak yang keren dengan‘Cup-Cup’nya . Ala….. iki opo maneh!


Dari kota bengawan, Jokowi merasakan, Jakarta sedang ‘menangis’. Itulah sebabnya ‘Cup-Cup’ menurutnya obat paling mujarab untuk menghentikan agar Jakarta tidak ‘mrebes mili’ lantaran selalu dikocok banjir, lalin macet, kebakaran, pemukiman kardus, narkoba, tawuran remaja, pemalakan ala Hercules, dan lain sebagainya.


Jualan furniture yang ditekuni di kota Bengawan dia rasakan tidak kompetitif. Bosan dia jualan meubel. Di samping itu, Jokowi tahu betul jualan kursi akan menimbulkan dampak ‘pemelorotan martabat’. Orang terbuka untuk mengolok-olok dirinya, “Lihat tuh Jokowi si mantan Walikota Solo, udah gak gablek apa-apa, ampek meja kursi pun dia jual. Ha ha ha….


Menyadari hal itu Jakarta dianggap satu satunya kota yang bisa menyelamatkan ‘pemeloorotan martabat’. Berhasil? Luar biasa, untuk tak mengatakan spektakuler. Cup-Cup sebagai dagangan barunya laris manis tanjung kimpul.


Pangsa pasar terbesar adalah media cetak dan elektronik, tak terkecuali Kompasiana. Setiap pemberitaan / ulasan yang menyebut-nyebut nama Jokowi, pembacanya luar biasa. Saya yakin termasuk tulisan ini.


Sepertinya mata orang Jakarta, bahkan luar Jakarta pun, tumplek-blek tertuju ke hidung Jokowi. Dari ujung rambut sampai tempat tukulnya rambut, dipelototi sampai tapis. Saya sempat iseng melirik beberapa tulisan rekan sesama kompasianer. Dagangan mereka cukup lumayan jadi santapan pembaca, sepanjang itu mengutik-utik sepak terjang Jokowi.


Secara sosial, elektabilitas SBY pun sempat ‘terkudeta’. Angka pembaca bertita tentang SBY kalah tinggi dibanding pemberitaan soal Jokowi. Praboowo, Mega, apa lagi Wiranto. Jago-jago gaek itu bener-bener keok sama juragan Cup-Cup.


Tetapi saya tergolong orang yang tidak mudah dikelabuhi Jokowi. Sihir Cup-Cup yang artikan menjadi ‘Cup-Menengo’ tidak mampu menutupi (baca: melampaui) tokoh lain yang pernah saya kenal. Benar, bahwa apa yang dilakukann Jokowi saat ini adalah manifestasi dari budaya ‘manunggaling kawulo lan gusti’.


Tokoh sejarah, pada saat republik ini masih diinjek-injek Belanda, menjadi pelopor sebagaimana yang dikerjakan Jokowi. Sri Sultan HB IX, dalam Tahta Untuk Rakyat, dipaparkan: beliau ‘ngangkutin’ karung berisi beras milik simbok-simbok, ke atas jeep yang dikendarainya. Dari Pakembinangun, beras itu beliau antar ke Pasar Bering Harjo, tanpa minta bayaran. Jadi, Jokowi masuk got itu bukan fenomena baru.


Kesimpulan saya: ‘Manunggaling kawulo lan gusti’ adalah tipikal ‘manusia tanpa jarak’. Jokowi bukan satu-satunya orang yang melakukan hal itu. Meski begitu, menurut saya: tokoh klasik, Sri Sultahn HB IX, dan tokoh kontemporer seperti Jokowi, barangkali merupakan sosok yang diminati dan sedang dicari oleh masyarakat Indonesia saat ini.


Secara kebetulan Sri Sultan HB IX adalah tokoh dari kalangan ningrat, sementara Jokowi dari lapisan masyarakat ‘pidak pejarakan’ untuk tak menyebut dari kalangan jelata. Kalau kita tidak munafik, kita menyukai tokoh seperti ini.


Apakah Jokowi dengan Cup-Cup berhasil atau tidak dalam menundukkan kota metropolitan yang cenderung liar, itu soal lain. Gagal ‘ngebangun’ Jakarta, bukan berati Jokowi adalah ‘pedagang kecap’. Jokowi tetap sebagai juragan ajonomoto alias ‘manusia tanpa jarak’ penyedap berita. Jokowi terlanjur dijuluki sebagai tokoh yang suka blusukan. Jangan keliru, Jokowi adalah tipikal manusia yang tidak gampang ‘diblusuke’.



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/10/22/jokowi-juragan-ajino-moto-manusia-tanpa-jarak-603815.html

Jokowi Juragan Ajino Moto, ‘Manusia Tanpa Jarak’ | Unknown | 5

0 komentar:

Posting Komentar